Cara Uji Paired Sample T-Test dan Interpretasi dengan SPSS

Cara Uji Paired Sample T-Test dan Interpretasi dengan SPSS | Selamat malam, berjumpa lagi dengan saya Sahid Raharjo admin blog www.spssindonesia.com. Pada kesempatan kali ini, saya akan membagikan tips cara melakukan uji paired sample t test menggunakan aplikasi atau program SPSS versi 21.

Cara Uji Paired Sample T-Test dan Interpretasi dengan SPSS

Uji paired sample t test merupakan bagian dari uji hipotesis komparatif atau uji perbandingan. Data yang digunakan dalam uji paired sample t test umumnya berupa data berskala interval atau rasio (data kuantitatif). Uji paired sample t test bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rata-rata dua sampel (dua kelompok) yang saling berpasangan atau berhubungan. Sementara itu, jika penelitian yang kita lakukan bertujuan untuk mengetahui perbedaan rata-rata dua sampel yang tidak berpasangan, maka pengujian hipotesis menggunakan uji independent sample t test

Uji paired sample t test merupakan bagian dari analisis statistik parametrik. Oleh karena itu, sebagaimana aturan dasar dalam analisis statistik parametrik, maka persyaratan utamanya adalah data penelitian haruslah berdistribusi normal. Untuk mengetahui apakah data yang kita pakai dalam pengujian paired sample t test ini berdistribusi normal atau tidak, tentunya kita perlu melakukan uji normalitas terlebih dahulu. Sementara itu, jika di dapati bahwa data penelitian tidak berdistribusi normal maka solusi alternatif yang bisa dilakukan sebagai pengganti uji paired sample t test adalah menggunakan analisis statistik non parametrik dengan uji wilcoxon

Sedangkan untuk varian data dalam uji paired sample t test ini boleh homogen atau boleh tidak homogen, hal tersebut bukanlah merupakan permasalahan. Artinya homogenitas varians bukan merupakan persyaratan mutlak dalam penggunaan uji paired sample t test untuk menganalisis data penelitian.

Agar kita lebih paham tentang apa yang saya maksud dengan sampel berpasangan dalam uji paired sample t test ini, maka ada baiknya kita memperhatikan contoh kasus yang akan di ulas pada pembahasan di bawah ini.

Contoh Kasus Uji Paired Sample T-Test dalam Penelitian

Seorang guru ingin mengetahui apakah ada pengaruh penggunaan strategi pembelajaran Answer Gallery terhadap hasil belajar dalam mata pelajaran Bahasa Jawa pada siswa kelas 5 SD Negeri 1 Taji tahun 2019? Selanjutnya, untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh strategi pembelajaran tersebut, guru melakukan dua kali tes dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa. Tes pertama dilakukan sebelum strategi pembelajaran Answer Gallery diterapkan di kelas (tes yang dilakukan sebelum adanya perlakuan atau treatment umumnya disebut dengan Pre Test). Tes kedua dilakukan setelah strategi pembelajaran Answer Gallery diterapkan di kelas, tes ini disebut dengan Post Test.

Dengan melakukan dua kali tes tersebut, maka guru mempunyai dua hasil belajar siswa yakni hasil pre-test dan hasil post-test (inilah yang disebut dengan sampel berpasangan). Adapun rincian data hasil belajar dalam mata pelajaran Bahasa Jawa pada siswa kelas 5 SD Negeri 1 Taji tahun 2019 yang sudah terkumpul, dapat kita lihat pada tabel di bawah ini.

Uji Perbandingan Komparatif dengan Paired Sample T Test dalam Penelitian One Group Pre Test Post Test Design menggunakan SPSS

[Download data excel, input-output SPSS untuk latihan]

Sebelum kita masuk pada bagian langkah-langkah uji paired sample t test, maka terlebih dahulu kita harus mengetahui apakah data nilai Pre Test dan Post Test tersebut berdistribusi normal atau tidak. Adapun hasil uji normalitas dengan SPSS dapat di lihat pada gambar di bawah ini.

Uji Normalitas Shapiro Wilk untuk Uji Paired Sample T Test SPSS

[Download input-output uji normalitas untuk latihan]

Berdasarkan tabel output “Tests of Normality” pada bagian uji Shapiro-Wilk, diketahui nilai Sig. untuk nilai Pre Test sebesar 0,345, dan nilai Post Test sebesar 0,114. Kerena nilai tersebut lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data nilai Pre Test dan Post Test berdistribusi normal. Dengan demikian maka persyaratan atau asumsi normalitas dalam penggunaan uji paired sample t test sudah terpenuhi. Pembahasan lebih lengkap tentang uji normalitas ini dapat anda simak pada panduan berikut: Cara Uji Normalitas Shapiro-Wilk dengan SPSS

Langkah-langkah Uji Paired Sample T-Test dengan SPSS

1. Buka lembar kerja SPSS, kemudian klik Variable View. Pada bagian Name ketikan Pretest dan Posttest. Pada bagian Decimals ubah menjadi 0 (karena skor hasil belajar siswa dalam bentuk angka bulat, bukan dalam pecahan desimal). Pada bagian Label ketikan Pre Test dan Post Test. Pada bagian Measure pilih Scale. Sementara untuk kolom yang lainnya biarkan otomatis SPSS saja (mode default) tidak perlu ubah-ubah. Tampak di layar.

Cara Uji Paired Sample T-Test dan Interpretasi dengan SPSS

2. Jika sudah, selanjutnya klik Data View atau tekan tombol CTRL+T pada keyboard laptop. Berikutnya kita masuk ke tahap pengisian atau input data ke SPSS, yakni dengan cara menulis skor hasil belajar siswa yang sudah terkumpul ke kolom Pretest dan Posttest. Atau jika data sudah data sudah disusun di excel maka bisa dengan cara copy paste. Tampak di layar.

Cara Uji Paired Sample T-Test dan Interpretasi dengan SPSS

3. Langkah berikutnya, dari menu bar yang terdapat pada SPSS klik menu Analyze, lalu pilih Compare Means, kemudian klik Paired-Samples T Test…

Cara Uji Paired Sample T-Test dan Interpretasi dengan SPSS

4. Setelah langkah tersebut dilakukan dengan benar, maka akan muncul kotak dialog dengan nama “Paired-Samples T Test”. Karena disini kita akan menguji perbandingan antara hasil belajar pada Pretest dengan Posttest, maka klik mouse pada data Pretest kemudian klik tombol yang tersedia untuk memasukkan data Pretest ke kotak sebelah kanan (Paired Variables:), setelah data Pretest masuk, lakukan cara yang sama pada data Posttest. Lihat gambar di bawah ini agar lebih jelas.

Gambar sebelum data Pretest dan Posttest dimasukkan ke kotak Paired Variables:

Cara Uji Paired Sample T-Test dan Interpretasi dengan SPSS

Gambar sesudah data Pretest dan Posttest dimasukkan ke kotak Paired Variables:

Cara Uji Paired Sample T-Test dan Interpretasi dengan SPSS

5. Berikutnya klik Options… maka muncul kotak dialog “Paired-Samples T Test: Options". Pada Confidence Interval Percentage tulis 95 (artinya kita menggunakan tingkat kepercayaan 95% atau signifikansi 5% atau 0,05), lalu klik Continue. Tampak di layar.

Cara Uji Paired Sample T-Test dan Interpretasi dengan SPSS

6. Setelah semua prosedur atau cara melakukan uji paired sample t test dengan SPSS sudah dilakukan dengan cermat, langkah terakhir adalah klik Ok. Maka akan muncul output SPSS berjudul “T-Test” yang selanjutnya akan kita tafsirkan maknanya.

Interpretasi atau Penafsiran Hasil Uji Paired Sample T-Test dengan SPSS

Interpretasi Tabel Output “Paired Samples Statistics”

Interpretasi atau Penafsiran Hasil Uji Paired Sample T-Test dengan SPSS

Pada output ini kita diperlihatkan ringkasan hasil statistik deskriptif dari kedua sampel yang diteliti yakni nilai Pre Test dan Post Test. Untuk nilai Pre Test diperoleh rata-rata hasil belajar atau Mean sebesar 54,62. Sedangkan untuk nilai Post Test diperolah nilai rata-rata hasil belajar sebesar 67,69. Jumlah responden atau siswa yang digunakan sebagai sampel penelitian adalah sebanyak 13 orang siswa. Untuk nilai Std. Deviation (standar deviasi) pada Pre Test sebesar 10,300 dan Post Test sebesar 10,727. Terakhir adalah nilai Std. Error Mean untuk Pre Test sebesar 2,857 dan untuk Post Test sebesar 2,975.

Karena nilai rata-rata hasil belajar pada Pre Test 54,62 < Post Test 67,69, maka itu artinya secara deskriptif ada perbedaan rata-rata hasil belajar antara Pre Test dengan hasil Pos Test. Selanjutnya untuk membuktikan apakah perbedaan tersebut benar-benar nyata (signifikan) atau tidak, maka kita perlu menafsirkan hasil uji paired sample t test yang terdapat pada tabel output “Paired Samples Test”

Interpretasi Tabel Output “Paired Samples Correlations”

Interpretasi Tabel Output “Paired Samples Correlations”

Output di atas menunjukkan hasil uji korelasi atau hubungan antara kedua data atau hubungan variabel Pre Test dengan variabel Post Test. Berdasarkan output di atas diketahui nilai koefisien korelasi (Correlation) sebesar 0,350 dengan nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,242. Karena nilai Sig. 0,242 > probabilitas 0,05, maka dapat dikatakan bahwa tidak ada hubungan antara variabel Pre Test dengan variabel Post Test. Penjelasan lebih lengkap tentang makna angka koefisien korelasi di atas dapat anda simak dalam panduan berikut: Cara Melakukan Analisis Korelasi Bivariate Pearson dengan SPSS

Interpretasi Tabel Output “Paired Samples Test”

Interpretasi atau Penafsiran Hasil Uji Paired Sample T-Test dengan SPSS

Output ketiga ini adalah output yang terpenting, karena pada bagian ketiga inilah kita akan menemukan jawaban atas apa yang menjadi pertanyaan dalam contoh kasus di atas, yakni mengenai ada atau tidaknya pengaruh penggunaan strategi pembelajaran Answer Gallery terhadap hasil belajar dalam mata pelajaran Bahasa Jawa pada siswa kelas 5 SD Negeri 1 Taji tahun 2019? Namun, sebelum kita membahas tentang penafsiran angka-angka yang terdapat pada tabel output “Paired Samples Test” di atas, terlebih dahulu kita perlu mengetahui rumusan hipotesis penelitian dan pedoman pengambilan keputusan dalam uji paired sample t test.

Rumusan Hipotesis Penelitian

H0= Tidak ada perbedaan rata-rata antara hasil belajar Pre Test dengan Post Test yang artinya tidak ada pengaruh penggunaan strategi pembelajaran Answer Gallery dalam meningkatkan hasil belajar untuk mata pelajaran Bahasa Jawa pada siswa kelas 5 SD Negeri 1 Taji tahun 2019.

Ha= Ada perbedaan rata-rata antara hasil belajar Pre Test dengan Post Test yang artinya ada pengaruh penggunaan strategi pembelajaran Answer Gallery dalam meningkatkan hasil belajar untuk mata pelajaran Bahasa Jawa pada siswa kelas 5 SD Negeri 1 Taji tahun 2019.

Pedoman Pengambilan Keputusan dalam Uji Paired Sample T-Test

Menurut Singgih Santoso (2014: 265), Pedoman pengambilan keputusan dalam uji paired sample t-test berdasarkan nilai signifikansi (Sig.) hasil output SPSS, adalah sebagai berikut.
  1. Jika nilai Sig. (2-tailed) < 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima.
  2. Sebaliknya, jika nilai Sig. (2-tailed) > 0,05, maka H0 diterima dan Ha ditolak.

Berdasarkan tabel output “Paired Samples Test” di atas, diketahui nilai Sig. (2-tailed) adalah sebesar 0,002 < 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan rata-rata antara hasil belajar Pre Test dengan Post Test yang artinya ada pengaruh penggunaan strategi pembelajaran Answer Gallery dalam meningkatkan hasil belajar untuk mata pelajaran Bahasa Jawa pada siswa kelas 5 SD Negeri 1 Taji tahun 2019.

Tari tabel output “Paired Samples Test” di atas juga memuat informasi tentang nilai "Mean Paired Differences " adalah sebesar -13,077. Nilai ini menunjukkan selisih antara rata-rata hasil belajar Pre Test dengan rata-rata hasil belajar Post Test atau 54,62-67,69= -13,077 dan selisih perbedaan tersebut antara -20,326 sampai dengan -5,828 (95% Confidence Interval of the Difference Lower dan Upper).

Informasi Tambahan: Selain membandingkan antara nilai signifikansi (Sig.) dengan probabilitas 0,05, ada cara lain yang dapat dilakukan untuk pengujian hipotesis dalam uji paired sample t test ini. Yakni dengan membandingkan antara nilai t hitung dengan t tabel. Adapun pedoman atau dasar pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut.
  1. Jika nilai t hitung > t tabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima.
  2. Sebaliknya, jika nilai t hitung < t tabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak.

Berdasarkan tabel output “Paired Samples Test” di atas, diketahui t hitung bernilai negatif yaitu sebesar -3,930. t hitung bernilai negatif ini sebabkan karena nilai rata-rata hasil belajar Pre Test lebih rendah dari pada rata-rata hasil belajar Post Test. Dalam konteks kasus seperti ini maka nilai t hitung negatif dapat bermakna positif. Sehingga nilai t hitung menjadi 3,930.

Selanjutnya adalah tahap mencari nilai t tabel, dimana t tabel dicari berdasarkan nilai df (degree of freedom atau derajad kebebasan) dan nilai signifikansi (α/2). Dari output di atas diketahui nilai df adalah sebesar 12 dan nilai 0,05/2 sama dengan 0,025. Nilai ini kita gunakan sebagai dasar acuan dalam mencari nilai t tabel pada distribusi nilai t tabel statistik. Maka ketemu nilai t tabel adalah sebesar 2,179. Lihat gambar di bawah ini.

Interpretasi atau Penafsiran Hasil Uji Paired Sample T-Test dengan SPSS

Dengan demikian, karena nilai t hitung 3,930 > t tabel 2,179, maka sebagaimana dasar pengambilan keputusan di atas dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan rata-rata antara hasil belajar Pre Test dengan Post Test yang artinya ada pengaruh penggunaan strategi pembelajaran Answer Gallery dalam meningkatkan hasil belajar untuk mata pelajaran Bahasa Jawa pada siswa kelas 5 SD Negeri 1 Taji tahun 2019.

Setelah mengetahui adanya pengaruh penggunaan strategi pembelajaran Answer Gallery dalam meningkatkan hasil belajar untuk mata pelajaran Bahasa Jawa pada siswa kelas 5 SD Negeri 1 Taji tahun 2019, maka pertanyaan selanjutnya adalah seberapa besar efektivitas penggunaan strategi pembelajaran Answer Gallery dalam meningkatkan hasil belajar siswa? Pembahasan tentang uji efektivitas ini dapat kita simak dalam panduan berikut: Cara Menghitung N-Gain Score dengan SPSS

Sekian pembahasan kita pada kesempatan kali ini mengenai cara melakukan uji paired sample t-test dan interpretasi dengan program SPSS. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kawan-kawan yang sedang mengerjakan tugas akhir penelitiannya. Selamat berjuang dan semoga sukses.

[Keyword: Cara Uji Paired Sample T-Test dan Interpretasi dengan SPSS Lengkap, Prosedur Langkah-langkah Uji Paired Sample T-Test dengan Program SPSS Versi 21, Pedoman Pengambilan Keputusan dalam Uji Paired Sample T-Test menggunakan Aplikasi SPSS, Uji Perbandingan Komparatif dengan Paired Sample T Test dalam Penelitian One Group Pre Test Post Test Design menggunakan SPSS] – [Referensi: Singgih Santoso. 2014. Panduan Lengkap SPSS Versi 20 Edisi Revisi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo]
VIDEO Cara Uji Paired Sample T-Test dengan SPSS Lengkap
UPDATE INFO: SELASA, 14 MEI 2019

63 Responses to "Cara Uji Paired Sample T-Test dan Interpretasi dengan SPSS"

  1. Permisi Saudaraku, saya mau menanyakan ketika hasil nilai saya pada Sig. (2-tailed) sebesar .000 itu kenapa ya? padahal saya sudah memasukkan data pretest+posttest saya dan sudah mengikuti langkah2 tersebut

    Mohon pencerahannya, trims

    BalasHapus
    Balasan
    1. nilai sigifikansi 0,000 itu justu baik pak..karena lebih kecil dari 0,05.. sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat berbedaan antara prestes dan postest pak

      Hapus
  2. Mas, sya mau tanya. Sya mempunyai judul skripsi pengaruh penerapan e-filing terhadap kepatuhan wajib pajak. Sya mau menggunakan paired sample t test. Dta sya dri tahun 2013 sebelum dan 2015 dan 2016 setelah. Kata dospem sya sya harus membandingkan data 2013vs2015 dan 2013vs2016. Jdi kira2 menurut mas analisis apa yg harus sya gunakan? Data sya berjumlah 11 masing2 tahun. Apa itu jga prlu d lakukan uji normalitas dan homogenitas atau paired sample t test saja. Terima kasih

    BalasHapus
  3. Assalamu alaikum pak, sya mempunyai judul skripsi pengaruh penerapan efiling trhadap kepatuhan. Kata dosen sya, sya haru menggunakan uji beda. Tpi data sebelum sya hanya tahun 2013, dan efiling d lakukan 2014. Dan data sesudah sya 2015-2016. Kata dosen sya sya harus membandingkan 2013-2015, dan 2013-2016. Apakah itu sdah betul? Dan data sya berjumlah 11 masing2 tahun. Lalu apakah sya harus menggunakan uji normalitas dan homogenitas. Teknik pengambilan data sya observasi. Terima kasih

    BalasHapus
  4. Mas kalau hasil t hitung negatif pada uji paired sample tes sedangkan sig 2tailed nya 0.000, cara bacanya gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. jika nilai sig 2-tailed sebesar 0,000 maka lebih kecil dari 0,05, sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan antara variabel sebelum dengan variabel sesudah

      Hapus
    2. jadi kira2 Hipotesisnya ditolak atau diterima pak?

      Hapus
    3. Hipotesis dalam artian Ha diterima mbak Riske

      Hapus
  5. assalamualaikum mas, saya mau nanya,, sebelum di uji paired t test, biasanya kan data harus melalui uji normalitas,, nah, sampyan untuk yg contoh data ini ada nda yang di uji normalitasnya? soalnya kasus saya sama, menggunakan pretest dan posttest, cuma saya bingung di uji normalitasnya gimana? terima kasih

    BalasHapus
  6. Wa'alaikumsalam.. data ini hanya contoh uji paired sample t test pak..betul idealnya harus dilakukan uji normalitas terlebih dahulu..untuk panduanya bapak bisa baca Cara Uji Normalitas Shapiro Wilk dengan SPSS

    BalasHapus
  7. Assalamualaikum pak, saya mau tanya, cara uji normalitas untuk UJI T paired bagaimana caranya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pakai uji normalitas Shapiro Wilk pak.. di blog ini ada kok..silahkan buka daftar isi

      Hapus
  8. Asalamualaikum pak. Saya ingin bertanya, saya baru mengerjakan skripsi, jadi di judul saya dari tahun 2012-2016. Apakah datanya itu saya jumlah dari tahun 2012 sd 2016? Mohon petunjuknya pak. Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam.. cara menyusun data skunder adalah:
      2012
      2013
      2014
      2015
      2016
      Seperti itu susunan datanya pak

      Hapus
    2. assalamualaikum bapak
      saya mempunyai pertanyaan pak
      saya kan sedang mengerjakan tugas karya tulis ilmiah tentang "pengaruh musik klasik terhadap konsentrasi belajar" nah bolehkah saya meneliti 1 populasi ? jadi saya tidak menggunakan sample melainkan langsung 1 populasi. dan bagaimana menurut bapak ?

      trims wassalam

      Hapus
    3. Wa'alaikumsalam..boleh boleh saja pak langsung populasi dijadikan sebagai sample penelitian..ini sering terjadi kok

      Hapus
  9. nuhun .. abdi janten ngertos

    BalasHapus
  10. Terima kasih, Pak. Jadi mengerti sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak..jangan bosan mampir lagi ya..hehe

      Hapus
  11. Assalamu alaikum pak..Hasil uji t ini apa perlu dibandingkan dengan nilai tabel t? Bagaimana cara melihat tabel tsb? Terima kasih atas pencerahannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'laikumsalam..saya kira tidak perlu mbak karena kita menggunakan aplikasi SPSS maka cukup menggunakan pengambilan keputusan dengan nilai melihat signfikansi keluaran output SPSS

      Hapus
  12. mohon maaf saya ingin bertanya. instrumen pengumpulan data saya menggunakan angket dengan opsi "ya" dan "tidak". apakah untuk melihat pretest dan posttestnya tetap menggunakan paired sample t test? dan bagaimana caranya? terima kasih pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul pak..nanti jawaban ya diberi nilai 1, sedangkan jawaban tidak diberi nilai 0

      Hapus
  13. Assalamualaikum. Mau tanya pak saya sedang melakukan penelitian dan mnggunakan paired sample t tes. Untuk jwban angket skala liket.nya pake skala brpa ya yg mudah untk d anlisis dngan paired sampel t tes. Nuwun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam..pakai skala 1-5 saja pak

      Hapus
  14. Pak mau bertanya, saya mau uji beda indeks pembangunan manusia jawa barat tahun 2015-2016, saya pake uji paired atau independent t test?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika samplenya berpasangan pakai uji paired sample t test.. sementara jika tidak berpasangan maka pakai uji independent sample t test

      Hapus
  15. Terima kasih, sangat membantu dalam penyusunan skripsi saya 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak..semoga diberikan kelancaran dalam menyelesaikan tugasnya

      Hapus
  16. Permisi, maaf pak saya mau bertanya. Kalau data saya hanya 3 variabel independen yg mau di bandingkan dr setiap variabel, mana yg lebih berpengaruh gitu bisa pakai metode ini tdk ya pak? Jd nnti berpasangannya jd
    A dan B
    A dan C
    C dan B
    Spt itu?
    Kalau tdk bs, sy pakai uji apa ya pak? Krn data saya itu tdk ada dependennya. Terimakasih sebelumnya

    BalasHapus
  17. Assalamualaikum pak saya mau bertanya, kalau hasil t paired test pada bagian mean dan uji t nya (-)negatif itu bagaimana ya sedangkan sig 2 taliednya 0.000? Mohon penjelasanya pak , terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam... gpp pak t bernilai negatif..fokus pada nilai signifikansi saja..karena dalam hal ini nilai sig sebesar 0,000 < 0,05 maka kesimpulannya ada perbedaan rata-rata pada sebelum dan sesudah dilakukannya perlakuan (treatment)

      Hapus
  18. Asslm. Pak mau bertanya, kalau Uji paired sampel T test ini apa sama seperti uji hipotesis?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wss.. uji paired sample t test ini memang adalah uji hipotesis mbak

      Hapus
  19. Pak apakah ada kajian ilmiah yang menjelaskan bahwa soal pretes dan posttes boleh sama?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya belum tahu jika soal pretest dan posttest sama persis..setahu saya subtansi soal memang sama, namun redaksinya berbeda

      Hapus
  20. Selamat malam. Saya saat ini sedang melakukan analisis data dari penelitian saya yang berjudul "Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Rimpang Wualae (E. elatior (Jack) R.M. Smith) Terhadap Kadar Glukosa Darah dan Perbaikan Histologi Hepar pada Tikus Jantan Galur Wistar Model Diabetes Melitus". Rancangan penelitian yang saya gunakan adalah pre-post test with control group design dan saya menggunakan uji t berpasangan dan ANOVA one way untuk analisis kadar glukosa darahnya. Yang ingin saya tanyakan ialah apakah data yang dimasukkan dalam uji anova, adalah hasil selisih kadar glukosa darah dari sebelum dan sesudah perlakuan? ataukah hanya data sesudah perlakuan saja? Sebelumnya saya telah melakukan uji t berpasangan dan hasil analisisnya menunjukkan adanya perbedaan (nilai sig. 2 tailed < 0,05). terima kasih sebelumnya dan mohon pencerahannya.

    BalasHapus
  21. Assalamualaikum.
    saya mau bertanya, kalau pakai uji paired t- test juga harus uji homogenitas atau tidak? terus kalau pakai uji homogenitas variabel x y nya itu hasil pretest postest ya?
    maaf mengganggu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam..untuk uji paired sample t test tidak perlu menggunakan uji homogenitas sebab dalam hal inikan samplenya berpasangan

      Hapus
  22. sya mau tanya mas, pnya sya hasil sig.(2 tailed) ny 0.003, jdi berpengaruh signifikan ya? nah sya bingung, dosen sya nnya, kmu tau drmn itu berpngaruh signifikan, ap ga terlalu kekecilan itu, dan teori drmn? soalny 0.003 sma 0.05 itu jauh perbandinganny, sya jdi bingung mau jwb teori drmn

    BalasHapus
    Balasan
    1. nilai 0,003 lebih kecil dari 0,05..maka ini artinya signifikan.. cara menjawabnya dengan memperlihatkan teori pada buku yang menyatakan seperti itu.. ada kok di bukunya imam ghozali atau singgih santoso

      Hapus
  23. Pak, untuk uji paired sample t test untuk uji normalitasnya apakah butuh nilai residu, jika butuh bagaimana mencari nilai residunya,, apakah menggunakan regresi.
    varibel saya ada 2, yaitu: 1 tingkat kepentinga dan 2 tingkat kebutuhan..mohon bantuannya pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya kira tidak perlu pak uji normalitas residual untuk paired sample t test

      Hapus
  24. Assalamualaikum pak, saya mau bertanya. Dalam uji normalitas pada paired sample T test, pada saat saya hendak uji normalitas, apakah "Sesudah dan sebelumnya" dimasukan ke kotak dependent list untuk diproses ? (Uji normalitas dengan cara analyze, descriptive stats, explore). Terimakasih pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam.. iya betul caranya seperti itu pak

      Hapus
  25. Assalamualaikum pak, ingin bertanya apakah ttp bisa menggunakan uji Paired Sample T - Test kalau menggunakan data scoring? Trs apakah interpretasinya sama? Terimakasih sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam.. tinggal di cari saja kok mbak perbedaan dari data scoring tersebut menggunakan uji paired sample t test

      Hapus
  26. Assalamualaikum,wr,wb
    Pak saya ingin menanyakan, jika data saya sebelum berdistribusi normal dan data saya yg sesudah tidak berdistribusi normal, maka saya menggunakan asumsi normal atau tidak normal????
    Apakah ada buku yg mendasarinya?
    Mohon bimbingannya..
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam..jika dalam uji paired sample t test ini data anda tidak berdistribusi normal..maka gunakan alternatif lain sebagai pengganti uji paired sample t test yakni menggunakan statistik non parametrik dengan uji wilcoxon... mbak bisa lihat teorinya di bukunya imam ghozali dan singgih santoso

      Hapus
  27. min interpretasi yang paried sample test di bagian mean nya itu -13.07692 itu gimana ? punya saya sama persis dengan sig(2tailed) nya = 0.00 tapi mean nya -(minus)6.619, saya kurang paham baca nya dibagian mean untuk di interpretasi

    BalasHapus
  28. Assalamualaikum,wr,wb
    Pak saya ingin menanyakan,jika sampel saya ambil dengan teknik jenuh dan data sampel saya < 30 apakah bisa menggunakan uji paired t test atau harus menggunakan wilcoxon??, sedangkan data saya normal dan juga homogen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam. bisa kok pakai uji paired sample t test

      Hapus
  29. Assalamualaikum, wr, wb
    Pak saya mau bertanya, kalau saya mau uji paired t test tapi datanya saya ambil 2 tahun sebelum dan 13 tahun sesudah itu bagaimana ya?

    BalasHapus
  30. Assalamh'alaikum, pak izin bertanya. Data penelitian saya sudah normal dan homogen. Jenis data interval. Menurut buku nya sugiono untuk penelitian saya yang sesuai menggunakan paired sample t test. Akan tetapi penelitian saya tentang efektifitas terapi musik dengan murottal alqur'an. Semakin kecil nilainya, maka semakin kecil tingkat stres nya. Namun di uji paired t test. Yang di hitung itu rentang yang semakin besar, maka semakin efektif perlakuannya. Baiknya bagaimana ya pak? Apakah di paired sample t test bisa dibalik rumusnya??? Jadi yang semakin kecil itu yg semakin efektif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam. pakai independent sample t test pak dan uji gain score untuk melihat efektifitasnya

      Hapus
  31. assalamualaikum, min mau tanya. saya kan penelitian hitung trombosit (30 sampel) yg masing masing sampel dihitung segera, tunda 24 jam suhu ruang, dan tunda 24 jam suhu kulkas. shg dapat 90 data karna 1 sampel ada 3 perlakuan, nah ini pake kolmogorov smirnov atau saphiro wilk ya? makasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam. lakukan uji normalitas shapiro wilk lalu lihat nilai df di output SPSS, jika nilai df < 50 maka hasil uji normalitas mengacu pada nilai sig. shapiro-wilk. sementara jika nilai df > 50 hasil uji normalitas mengacu pada nilai sig. kolmogorov-smirnov

      Hapus
  32. assalamualaikum. pak saya mau cara menguji normalitas engan langsung membandingkan data pretest dan posttest itu gimana ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam. cara uji normalitasnya seperti panduan berikut: Cara Uji Normalitas Shapiro-Wilk dengan SPSS Lengkap
      catatan: dalam konteks penelitian anda. maka dalam uji normalitas di atas, anggap kelompok A adalah data pretest sementara kelompok B adalah data posttest

      Hapus
  33. Assalamualaikum Pak, maaf mengganggu waktunya, saya mau tanya..
    diatas sudah banyak di jelaskan bahwa jika hasil normalitas salah satu data sebelum itu normal sedangkan sesudah nya tidak normal bisa memakai uji wilcoxon, pertanyaan saya kalau akhirnya yang dipakai wilcoxon lalu bagaimana kekuatan uji wilcoxon ini ya pak?
    maksud saya, ke-akuratan uji wilcoxon itu bagaimana dibandingkan dengan uji paired?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam. Relatif sama kok sebenarnya tingkat akurasinya. memang aturannya jika tidak normal maka tidak boleh pakai statistik parametrik dengan uji paired sample t test. oleh karena itu pakainya uji wilcoxon

      Hapus

Silahkan tinggalkan jejak sobat disini. Sehingga saya tau bahwa artikel di atas bermanfaat. Terimakasih